post.png
TULISAN_WEB.jpg

Berusaha Menikmati Teror

POST DATE | 28 Januari 2019

Sebagai pihak yang berfungsi untuk melakukan pembelaan terhadap konsumen, lembaganya sering bersinggungan dengan kepentingan perusahaan. Karena itu, tidak jarang Farid mendapat tekanan. “Teror fisik meskipun tidak banyak, tetapi ada,” ungkapnya.

Biasanya, teror ini datang saat dia sedang ribut mempermasalahkan hak konsumen. “Takut sih manusiawi ya. Coba saja, ada orang bertubuh besar datang dan cerita baru saja menghajar orang, siapa yang tidak kecut. Tapi karena komitmen kita dakwah, kita mengembalikan ke sana, ke Tuhan YME,” tegasnya.

Farid mengakui, sikap pasrah tersebut diperolehnya dari ajaran almarhum sang ayah, Kalim D Lubis, yang dikenal sebagai ustad di kampungnya, Ujung Gading, Pasaman Barat. “Ayah pernah diteror karena berceramah tentang minuman keras.  Masih terbayang dalam ingatan saya, dia dikejar sampai ke rumah kami. Tapi, ayah tetap saja berceramah,” sebutnya.

Ia menganggap apa yang dilakukannya sekarang memiliki kesamaan dengan kegiatan ayahnya dulu. “Sama-sama berniat menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar. Aktivitasnya di LAPK adalah lapangan dakwah, meskipun saya tidak memakai ayat-ayat,” tegasnya.

Mengenai teror, Farid sudah memprediksinya sebelum memutuskan untuk mendirikan LAPK. “Itu risiko, jadi saya harus membiasakan diri dan menikmatinya. Terlebih, apa yang telah saya perbuat selama ini, belum apa-apanya jika dibandingkan dengan ayah saya dulu”,  jelasnya.

Tersandera Keadaan

Seumur hidup, Farid mengaku hanya tiga kali pergi ke bioskop. Maklum, pria ini tidak hobi bertandang ke bioskop. Pertama, sekitar tahun 1986. Waktu  itu, Farid yang tinggal di kampung sedang jalan-jalan ke Kota Medan. “Nonton film India.” Ungkapnya sembari mengumbar senyum.

Kemudian yang kedua, sekitar tahun 1991, saat menonton film China. Acara nontonnya yang terakhir, malah tidak diingatnya lagi. Begitu juga dengan jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Kalaupun tidak dipaksa anak-anaknya, Farid lebih memilih tinggal di rumah.

“Saya tidak terlalu antusias untuk mengajarkan anak-anak pergi ke plaza. Karena bagi saya itu adalah perilaku konsumtif. Saya ingin mengajarkan kepada anak-anak untuk membedakan pola konsumtif dengan konsumerisme. Sekarang orang-orang lebih banyak berperilaku mendahulukan keinginan dari kebutuhan atau pola konsumtif,” ujarnya.

Maklum, sebagai orang yang kerap membela hak konsumen, sedikit banyak kehidupan Farid terpengaruh oleh pekerjaannya. “Kita ingin memberikan keteladanan, cukup dimulai dari anak-anak sendiri saja,” tukasnya.

Tapi, situasi ini akan berbeda jika Farid diajak ke toko buku. “Kalau diajak anak-anak ke toko buku saya tidak akan menolak,” ujarnya. Buku, menurut Farid, merupakan suatu aset. Soalnya, di dalam buku, banyak ilmu yang dapat digunakan untuk kehidupan sehari-hari.

Farid juga merasa beruntung karena diberi kelebihan mampu melahap buku-buku dengan cepat, termasuk membaca koran. Di rumahnya, setiap hari ada lima media yang menjadi referensi pengetahuannya. “Ini tuntutan profesi. Pantang rasanya, bila ada info baru dan hangat tapi kita tidak tahu. Apalagi, teman-teman dari media massa suka meminta tanggapan kita. Bagaimana jika saya bilang saya belum tahu? Kan malu? Jadi, bisa dibilang, saya tersendera oleh keadaan,” tandasnya.

 

===============

Sumber: Medan Bisnis, Minggu III, Maret 2005.



Tag: Konsumen, , ,

Post Terkait

Komentar