post.png
KAFE.jpg

Bisnis Kafe dan Malfungsi Pemukiman

POST DATE | 08 Juli 2022

Tak dapat dibantah dewasa ini, banyak sekali bermunculan kafe, coffee shop terutama kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Yogyakarta dan lain sebagainya. Bahkan fakta menjamurnya kafe, coffee shop di masa pandemi Covid-19 telah merambah pula di Kota Medan dan sekitarnya.

Biasanya kafe, coffee shop menjadi pilihan utama untuk bekerja, meeting, ataupun untuk nongkrong. Tidak hanya untuk pekerja, para mahasiswa dan siswa pun biasanya menghabiskan waktu mereka untuk sekadar nongkrong atau mengerjakan tugas ataupun main game di café/coffee shop.

Dari segi harga yang ditawarkan pun bervariasi, begitu pun dengan jenis kopi atau menu sajian yang dijual. Apakah kehadiran kafe, coffee shop telah menjadi bagian dari gaya hidup di Indonesia atau hanya tren sesaat di kalangan mahasiswa, siswa dan eksekutif muda?

Bagi sebagian orang bekerja di kafe dianggap dapat memacu kreatifitas karena tidak terkurung di dalam suasana kantor yang membosankan. Selain itu bekerja di kafe juga dapat membuat suasana lebih relax.

Untuk pelajar dan mahasiswa, kafe, coffee shop menjadi pilihan karena hanya dengan membeli secangkir kopi, mereka dapat memanfaatkan fasilitas wi-fi gratis untuk mengerjakan tugas atau main game seharian.

Perlu juga dipahami salah satu hal yang menyebabkan menjamurnya kafe adalah mungkin karena meningkatnya daya beli masyarakat serta gaya hidup metropolitan. Selain itu harga dari makanan dan minuman di kafe juga masih dapat dikatakan cukup terjangkau. Bagi anak muda, mahasiswa ataupun para siswa nongkrong di kafe dapat membuat mereka dianggap milenial dan mendapat pengakuan terhadap status sosial mereka!

Salah satu faktor yang menyebabkan jumlah kafe mengalami peningkatan adalah perubahan nilai-nilai masyarakat yang saat ini lebih memilih tempat-tempat alternatif lain seperti kafe untuk berinteraksi atau bersosialisasi daripada ruang terbuka umum karena kondisi kuantitas dan kualitas ruang terbuka umum yang masih rendah (Pamungkas, 2017).

Pertumbuhan kafe yang terjadi memiliki kontribusi yang positif terhadap perkembangan kota, salah satunya menyangkut penyerapan tenaga kerja dan juga peningkatan daerah (PAD) dari sektor usaha.

Akan tetapi, dalam perkembangannya kafe juga memberikan ekses buruk. Sebut saja kedekatan/himpitan beberapa kafe dengan aktivitas lain yang memiliki karakter berbeda, seperti permukiman atau pun rumah ibadah sering kali menimbulkan potensi konflik. Mulai dari arus lalu lintas yang terganggu karena penggunaan bahu jalan sebagai ruang parkir hingga polusi suara dari dalam kafe adalah beberapa permasalahan yang sering terjadi berkaitan dengan lokasi kafe.

Pengendalian Ekses Buruk

Keadaan tersebut bila tidak segera diselesaikan akan membuat kehadiran dari kafe justru menjadi kontra produktif dengan perkembangan kota-relasi antarwarga. Oleh karena itu, kehadiran kafe saat ini perlu dikelola dan ditata dengan baik agar dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi perkembangan kota-relasi warga.

Perkembangan kafe mungkin dapat diarahkan ke ruang-ruang kota yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan kafe sehingga dampak negatif yang dihasilkan dapat dikurangi karena telah disiapkan langkah-langkah antisipasi sebelumnya

Seiring perkembangan zaman kafe telah banyak mengalami perubahan atau pergeseran terutama berkaitan dengan fungsi kafe itu. Kafe yang ada saat ini telah memberikan konsep suasana yang berbeda sehingga pengunjungnya tidak hanya didominasi oleh orang-orang dewasa, akan tetapi anak-anak muda baik itu pria atau wanita juga sudah mulai meramaikan tempat ini. Kafe yang semula merupakan tempat untuk meminum kopi/teh saat ini telah berubah menjadi ruang publik alternatif bagi anak-anak muda dan pekerja kantoran (Damajani, 2008).

Tentunya pertumbuhan pesat kafe,coffee shop ada kelebihan dan kekurangannya. Masalahnya secara normatif banyak kawasan yang tidak diperuntukan untuk usaha, kemudian pada kenyataannya dialihfungsikan sehingga banyak kafe atau restoran yang berdiri di wilayah permukiman penduduk.

Faktor kedekatan beberapa kafe dengan aktivitas lain yang memiliki karakter berbeda, seperti permukiman sering kali menimbulkan konflik/gesekan sosial. Banyak lokasi kafe didirikan di kawasan permukiman penduduk. Rumah tinggal disulap menjadi kafe.

Tanah kosong yang sepatutnya berfungsi sebagai pertapakan rumah diubah sebagai kawasan bisnis-komersil seperti kafe, dan lain sejenisnya.

Beberapa dampak negatifnya adalah terganggunya fungsi hunian berupa penurunan kenyamanan hunian baik secara sosial, pendidikan, dan kenyamanan lingkungan termasuk kenyamanan pelaksanaan keagamaan.

Apalagi banyak kafe, coffee shop beroperasi secara penuh (full time 24 jam), tanpa jeda, tanpa menimbang sisi kemanusiaan, segi kepatutan dan kearifan bagi warga sekitarnya. Operasi kafe tanpa aturan buka-tutup yang jelas terjadi karena tiada aturan hukum yang mengaturnya?

Dampak buruknya adalah fungsi hunian mengalami degradasi-defisit tersebab suara berisik/kegaduhan suara yang bersumber dari kafe, coffee shop, restoran. Dalam banyak kasus suasana disekitaran kafe persis seperti keriuhan/kegaduhan suara pasar malam atau terminal.

Ekses lain dari efek keramaian lalu lintas kendaraan adalah suara raungan knalpot bising (knalpot racing) dari geberan kendaraan (roda dua atau roda empat) yang keluar-masuk ke kafe. Suara dari kafe telah berdampak buruk bagi gangguan pendengaran dan kualitas istirahat warga.

Polusi suara dari kafe juga telah menimbulkan ekses seperti gangguan tidur, sakit kepala, suasana hati memburuk bahkan dapat menyebabkan stress/depresi dan emosi yang tidak stabil.

Padahal permukiman adalah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, agar manusia dapat menjalankan fungsi-fungsi sosial, lingkungan, keagamaan dan relasi yang normal di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Menyulap permukiman sebagai kawasan komersial seperti restoran, kafe, coffee shop dan lain sebagainya harus juga tetap memperhatikan pemanfaatan kawasan (Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman).

Kegiatan yang tidak mengganggu fungsi hunian adalah kegiatan yang tidak menimbulkan penurunan kenyamanan hunian dari penciuman, suara, suhu/asap, sampah yang ditimbulkan dan sosial.

Tertulis dalam konstitusi secara tegas setiap orang berhak atas hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat (Pasal 28 H ayat (1) UUD Tahun 1945).

Begitu pula Pasal 35 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM setiap orang berhak hidup di dalam tatanan masyarakat dan kenegaraan yang damai, aman, dan tenteram, yang menghormati, melindungi, dan melaksanakan sepenuhnya HAM dan kewajiban dasar manusia.

Warga yang terdampak langsung kehadiran kafe dipermukiman bukanlah kawula atau oknum yang karena kedudukan sosial dan/atau afiliasi kulturnya berbeda dari yang berkuasa lalu boleh diperlakukan dengan sewenang-wenang.

Untuk menjamin hak-hak warga dikenal konsep Civil citizen-ship, yakni konsep kewarganegaraan yang memberikan arti pentingnya hak-hak manusia yang asasi, yang karena itu wajib dijamin tegaknya, tatkala manusia-manusia meninggalkan status sebagai makhluk alami untuk selanjutnya memasuki status (etat state) mereka yang baru sebagai warga suatu organisasi kehidupan yang disebut sebagai negara (Sutandyo Wiknjosoebroto, 2002).

Harus diakui kafe, coffee shop, dan sejenisnya dapat membuka peluang rekrutan tenaga kerja dan menambah pendapat bagi suatu daerah. Tetapi penting juga dipahami berbisnis juga harus menjunjang etika moral yang tinggi dengan membingkai usahanya secara patut-manusiawi.

Menghormati norma agama, nilai budaya, menjunjung tinggi HAM, keragaman budaya, dan etika kearifan lokal adalah prasyarat berbisnis yang baik dan bermanfaat. Iklim bisnis tidak boleh kehilangan kesadaran pada kemanusiaan dan lingkungan sosial yang ramah. Bisnis yang baik tidak boleh mengoyak tenunan relasi sosial yang telah terjahit dengan cantik.

Sumber: https://waspada.id/headlines/bisnis-kafe-malfungsi-pemukiman/



Tag: , , ,

Post Terkait

Komentar