post.png
FARID_LAPK_SUMUT_POS.png

Kaya dengan Membela Konsumen

POST DATE | 25 Januari 2019

Nama Farid Wajdi tentu tidak asing bagi kita yang selalu membaca media cetak lokal. Di media, anak keempat dari lima bersaudara pasangan Kalim D. Lubis dan Nurhalim Nasution ini, dikenal sebagai direktur salah satu LSM pembela konsumen, yakni Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen (LAPK). Dia juga aktif menulis opini di berbagai media massa tentang konsumen.

 

Paling anyar, nama dan lembaga yang dipimpinnya menyedot perhatian media massa ketika menggugat PT PLN Wilayah Sumut lewat PN Medan terkait maraknya pemadaman listrik. Gugatan itu, akhirnya kandas setelah melewati masa persidangan selama 10 bulan. Pasca-penolakan itu, Farid melakukan aksi selanjutnya melawan PLN.

Menjadi aktivitis pembela konsumen, meski tak ‘seseksi’ dan seheroik pembela HAM, buruh atau petani, menurut Farid, adalah pilihannya. Lalu, meski sering dicibir rekannya sesama advokat karena kerap memegang ‘proyek’ yang tak ada uangnya, Farid mengaku tetap percaya diri.

Baginya membela konsumen yang kebanyakan adalah masyarakat yang terpinggirkan hak-hak publiknya adalah lahan berdakwah juga. Lahan tempat dia melakukan amal makruf nahi munkar (berbuat baik dan mencegah kemungkaran).

Bagaimana kabar terakhir gugatan terhadap PT PLN pasca-penolakan oleh PN Medan?

Meski hakim menyatakan gugatan kita tak dapat diterima, tapi sebenarnya kita berhasil dalam gugatan itu. Yang pertama, kita berhasil membangun opini publik bahwa PLN Sumut mempunyai kinerja yang buruk.

Sehingga nyaris semua rakyat Sumut mempunyai penilaian serupa. Kedua, kita berhasil menarik perhatian para pejabat, sehingga orang tahu bahwa krisis listrik itu terjadi di Sumut. Dan ketiga, munculnya bibit kesadaran bersama publik bahwa untuk kegiatan  mengkritisi pemerintah tak bias hanya satu elemen masyarakat saja.

Apa tantangan yang Anda alami dalam mengajukan gugatan itu?

Memang luar biasa sebenarnya tantangan yang kita hadapi. Mulai soal anggaran ketika kita melakukan aktivitas. Lalu, soal persepsi publik bahwa kita kurang kerjaan, cari popularitas dan ada maunya. Tapi itu semua adalah pelajaran berharga bagaimana kita bisa mengambil sikap untuk kasus-kasus advokasi di lain waktu. Di kasus ini juga semua ilmu kita diuji.

Apa rencana selanjutnya?

Yang pertama saya mau katakan ada banyak sekali dukungan kepada kami setelah ditolaknya gugatan itu. Dan itu merupakan dukungan moral yang besar buat kami untuk tetap konsisten dalam perjuangan ini. Karena sebenarnya ada banyak sekali godaan yang coba dilakukan agar kami takluk.

Yang meminta agar gugatan ini dipetieskan saja atau bahasa masyarakat “di-lapanenam-kan” saja. Dan media yang digunakan untuk menggoda itu ya teman-teman dekat kita juga. Kemudian kita coba diadu dengan elemen masyarakat lainnya.

Lalu, meski gugatan belum dapat diterima atau respon yang tak terlalu  besar dari teman-teman-teman di legislative, enggak ada istilah menyerah. Walau memang sebenarnya kita juga lelah dan penat untuk membicarakan soal listrik.

Sampai kita merasa tak tahu harus berbuat apalagi. Sampai-sampai kita  berpikiran hanya ada satu lagi yang belum dilakukan. Yakni menduduki kantor-kantor PLN. Walau barangkali itu terdengar sangat emosional dan perlu pemikiran yang sangat matang.

Tapi itu merupakan salah satu cara untuk menarik perhatian orang untuk membangun kesadaran bersama. Sebab penyakit di PLN ini kalau dibiarkan saja akan semakin parah.

Jadi?

Menjelang Ramadhan ini kita wait and see, karena Pansus (panitia khusus) Kelistrikan DPRD Sumut sedang bekerja melakukan panggilan ke sana sini. Krisis listrik saat ini sendiri tidak akan berubah bila tidak ada tekanan politik atau ada chaos yang luar biasa.

Kita telah menempuh berbagai cara, mulai gugatan hukum sampai aksi massa. Jadi kalau DPRD nantinya ternyata mandul kita akan minta Pansus dibubarkan, sebab belakangan ini Pansus tersebut malah terkesan menjadi legitimator bagi PLN bahwa krisis listrik tidak bisa segera diselesaikan dengan cepat.

Lalu yang kedua, kita saat ini sedang konsolidasi dengan teman-teman NGO dan elemen masyarakat lain. Apakah kita akan melakukan aksi moral lagi ke jalanan atau aktivitas-aktivitas lain yang bisa menarik perhatian publik dan pemerintah.

Apasih motivasi Anda beraktivitas memperjuangkan konsumen seperti saat ini?

Ada tiga hal, Pertama, merupakan bentuk keterpanggilan kita sebagai akademisi melihat bahwa masyarakat menjadi korban atau dikorbankan oleh pengusaha dan pemerintah. Kedua, kita ingin ada harmonisasi antara ilmu yang kita dapatkan dan realitas atau kenyataan di lapangan. Ketiga, bahwa sebagai aktivis konsumen kita ingin bisa ikut mewarnai kebijakan-kebijakan pemerintah demi kepentingan orang banyak.

Dan di luar itu semua, bagi saya semua merupakan lahan untuk melakukan amar makruf nahyi munkar. Sebab berdakwah itu kan tidak hanya melalui lisan. Kebetulan saya tidak punya keahlian di sana. Saya biasanya di sini, jadi advokasi yang kita lakukan bagi kita juga merupakan dakwah dan dakwah itu tentu ada nilai ibadahnya.

Lebih dari itu, saya ingin katakan bahwa di era hari ini banyak orang mengukur keberhasilan berdasarkan materi, saya ingin katakan, tidak. Berhasil itu relatif. Sebagai seorang akademis, misalnya, saya sudah begitu senang bila ada wartawan yang mewancarai saya.

Lebih dari itu lagi, saya ingin memberikan keteladanan. Keteladanan kepada orang-orang di sekitar saya dan kepada mahasiswa saya tentang bagaimana seharusnya berbuat di masyarakat tanpa perlu modal yang besar. Yang penting ada semangat dan kemauan. Dalam bahasa agama inilah amar makruf nahyi munkar itu.

Bagaimana Anda dan rekan-rekan membiayai aktivitas?

Pembiayaannya dari kami sendiri. Kelebihan LAPK semua yang bergabung di sini adalah dosen dan semuanya adalah advokat. Jadi, lembaga ini adalah tanggung jawab sosial dari profesi advokat dan implementasi ilmu dari dunia akademisi.

Pada sejumlah kasus, ada sumbangan dari rekan-rekan atau masyarakat agar gugatan bisa berjalan. Jadi, pembiayaan kami adalah urusan antara rekan-rekan NGO dan masyarakat. Mengajukan gugatan ke pengadilan itu memang tak semudah yang dibayangkan orang.

Perlu biaya, waktu dan pemikiran yang besar serta kesabaran yang ekstra. Bayangkan gugatan kita terhadap PLN yang terakhir ini sampai 10 bulan kita menantinya. Walaupun akhirnya gugatan tidak dapat diterima, tapi kita dapat pelajaran sangat berharga dalam melakukan dvokasi.

Lembaga kita memang bisa dibilang LSM miskin. Tapi di tengah kemiskinan itu justru kita sangat kaya sekali. Kita tidak bisa didikte, karena kita sangat mandiri. Kedua apa saja yang ingin kita lakukan, orang lain tidak bisa mencegah. Kita sangat merdeka.

Apa sih cita-cita Anda?

Dari segi akademisi, siapapun kalau dia progresif pasti ingin meraih gelar doktor dan professor. Tapi saya juga tak bermimpi terlalu muluk-muluk. Saya ikut hidup ini mengalir saja. Saat ini misalnya, adalah waktunya LAPK untuk menunjukkan eksistensinya. Ini saat kita memupuk  modal untuk advokasi yang lain, sehingga lebih bisa dihargai oleh pelaku usaha atau pemerintah.

Apa keinginan Anda yang belum terpenuhi?

Saya sudah merasa cukup kaya, punya teman mulai masyarakat bawah sampai tokoh elite. Itu sudah cukup luar biasa. Ada sih keinginan yang belum terpenuhi, yakni menulis buku tentang hukum Islam di Indonesia atau tentang konsumen. Saat ini, saya belum cukup waktu untuk mengerjakannya.

Siapa idola Anda?

Pertama tentu saja Nabi Muhammad SAW. Kemudian orang tua saya. Bapak saya mubaligh dan saya dapat pelajaran tentang intimidasi, provokasi dari pihak ketiga. Satu ketika saya ingat sekali, setelah berdakwah di satu masjid.

Bapak pernah dikejar pemabuk sampai ke rumah dan rumah kami digedor-gedor sampai tengah malam. Itu sangat berkesan bagi saya bahwa apapun yang kita lakukan takkan lepas dari persoalan-persoalan yang kita hadapi.

Orangtua saya mudah-mudahan cukup dikenal masyarakat sebagai orang baik dan saya juga punya keinginan seperti itu, dikenal sebagai orang baik.

Apa prinsip-prinsip hidup Anda?

Di LAPK kami punya motto “Ketidakadilan Menimbulkan Perlawanan” dan itu juga motto saya. Bagi saya, keinginan untuk berbuat baik itu muncul secara refleks. Jadi, misalnya naik kendaraan, tiba-tiba orang nyelonong lampu merah, saat itu muncul rasa marah. 

Begitu juga setiap melihat ketidakadilan, akan muncul keinginan untuk membantu. Bagi kita sebagai seorang advokat, saya tidak perlu perkara kalah atau menang. Bagi saya, bila melihat sesuatu yang janggal maka saya akan melawan.

Bagi saya duit bukan jumlahnya, tapi berkah. Makanya saya tak berpikir mencari perkara yang besar untuk mendapatkan duityg banyak. Yang penting bagi saya menerima uang yang  berkah.

Siapapun yang datang meminta bantuan kepada saya, akan saya bantu semampu yang saya bisa. Bila ada yang datang meminta bantuan maka yang pertama kali saya tanya bukan berapa dia  mampu membayar saya.

Tapi apakah Anda mau bersama memperjuangkan hak-hak Anda, lalu bagaimana kita bisa melakukannya, kalau Anda siap, baru kita jalan.

Anda sensitive melihat ketidakadilan seperti motto yang Anda pegang, apa ada kaitannya dengan pengalaman masa kecil?

Ya, orangtua saya dulu pernah diintimidasi karena aktivitas dakwahnya. Berikutnya saya kan sarjana hukum yang artinya bagaimana menegakkan mana yang benar dan mana yang salah. Kemudian karena panggilan agama untuk melakukan amar makruf nahyi munkar semaksimal mungkin.  Banyak hal memang yang memengaruhi sikap hidup saya, orangtua, pendidikan, organisasi dan orang-orang disekitar saya.

Ada rencana terjun ke dunia politik?

Sampai saat ini saya belum ada rencana ke sana, tapi saya tidak mengharamkan politik. Apalagi bagi sejumlah orang mungkin saya akan dinilai terlalu radikal dan sulit untuk melakukan kompromi-kompromi. Padahal politik itu kan adalah seni tarik ulur.

Saya memang tak punya obsesi macam-macam. Saya bahagia dengan apa yang sudah saya dapatkan hari ini. Ada saja orang yang mengucapkan terima kasih bagi saya, saya sudah merasa senang. Begitu juga kalau ada yang mencaci bagi saya itu adalah koreksi.

Dalam bahasa agama, ukurang kesejahteraan bukan dengan ukuran uang. Ukuran kemenangan bukan karena kemenangan dalam peperangan. Sebagai seorang guru kebanggaannya adalah melaksanakan apa yang dia ajarkan.

 

============== 

Sumber: Sumut Pos......



Tag: LAPK, Konsumen,

Post Terkait

Komentar