post.png
Hoegeng.jpg

Kisah Hoegeng dan Polisi Bermartabat

POST DATE | 21 Agustus 2022

 

Mantan presiden Indonesia Abdurrahman Wahid pernah memuji kejujuran Hoegeng, katanya "hanya ada 3 polisi jujur di Negara ini: polisi tidur, patung polisi dan Hoegeng". Hoegeng adalah Kepala Polri kelima yang menjabat pada tahun 1968-1971. Kariernya sebagai polisi dimulai dari pangkat rendahan yang tak bergaji hingga menjadi orang nomor satu Polri.

Hoegeng yang terkenal keras dan lurus ini selalu mendapat godaan dan tak jarang tekanan dari rekan sesama polisi akibat keteguhannya menegakkan hukum. Bahkan di umurnya yang baru menginjak 49 tahun, Hoegeng "dipensiunkan" oleh Presiden Soeharto karena bersikeras mengusut dugaan keterlibatan anak pejabat dalam pemerkosaan kasus Sam Kuning (Kompas.com, 14/02/2016).

Jenderal Polisi (Purn.) Drs. Hoegeng Iman Santoso lahir pada tanggal 14 Oktober 1921 dan meninggal pada tanggal 14 Juli 2004. Hoegeng terkenal sebagai polisi paling berani dan jujur di Indonesia oleh media dan masyarakat.

Banyak sebenarnya kisah menarik berkenaan dengan integritas jabatan dan kesederhanaan hidup seorang Hoegeng. Misalnya dikisahkan, suatu ketika, Hoegeng mendapat tugas ke Surabaya pada tahun 1952 menjadi Wakil Kepala Direktorat Dinas Pengawasan Keamanan Negara (DPKN).

Di sana, Hoegeng mendapat informasi dari bawahannya hanya ada satu rumah dinas yang tersisa di Surabaya.

Berikut percakapan Hoegeng dan bawahannya.

"Keadaannya bagaimana?" tanya Hoegeng.

"Kamarnya ada dua, Pak! Ada kamar mandi, dapur!"

"Kalau begitu, ya saya pindah ke sana saja!"

"Tapi pak, kurang pantas bagi Bapak. Rumah itu hanya untuk yang berpangkat inspektur polisi!"

"Ya, sudah peduli amat. Saya kan belum punya rumah," ujar Hoegeng dengan nada gembira. Si bawahan pun melapor kepada atasannya soal rumah dinas baru itu. Sang atasan langsung mencibir pilihan Hoegeng dengan mengatakan rumah itu tak cocok untuk perwira seperti Hoegeng. Namun, sekali lagi Hoegeng tidak peduli (www.kompasiana.com, 9 Desember 2021).

Secuil kisah lain saat penempatannya di Medan. Sudah menjadi pengetahuan umum tak mudah bagi polisi baru untuk menjalankan tugas di Medan. Saat itu, ia diberitahu akan menjabat sebagai Kepala Direktorat Reserse dan Kriminal Kantor Kepolisian Sumatera Utara.

Tak mudah bagi polisi baru saat di Medan ialah banyak hal yang menggiurkan untuk melanggar hukum sementara bagi polisi yang jujur dan tak mau kompromi itu adalah hal berat. Medan sendiri pada saat itu marak sebagai wilayah penyelundupan dan perjudian yang banyak di-backing oleh aparat-aparat penegak hukum seperti polisi ataupun tentara.

Ujian pertama saat Hoegeng dan keluarga tiba di Medan setelah pelayarannya dari Jakarta adalah ia disambut dengan pengusaha yang mengaku sebagai ketua “Panitia Selamat Datang”. Panitia yang dibuat oleh pengusaha-pengusaha Medan untuk menyambut Hoegeng.

Pengusaha tersebut mengatakan mereka telah menyiapkan rumah dan kendaraan untuk Hoegeng selama ia berdinas di Medan. Tak hanya itu, Hoegeng juga telah disiapkan hotel untuk ia menginap. Akan tetapi Hoegeng menolak tawaran tersebut dan mengatakan kepada pengusaha tersebut jika ia membutuhkan ia akan segera menghubunginya.

Tak hanya disitu saja, karena sesampainya ia ke rumah dinasnya yang berada di Jalan A. Rivai, Medan, Hoegeng mendapatkan kiriman sejumlah perabotan rumah tangga dari pengusaha Medan seperti mesin cuci, kulkas, mesin jahit dan perabotan rumah tangga lainnya.

Seandainya Hoegeng mengambilnya ia tak perlu lagi untuk belanja perabotan, karena ia juga tak membawa semua barang perabotannya dari Jakarta. Tetap istikamah, lagi dan lagi Hoegeng menolaknya!

Pada awalnya ia masih menolak dengan halus agar pengusaha tersebut mengambil kembali perabotan tersebut dan jika tidak diambil Hoegeng akan mengeluarkannya dari rumah. Tetapi, pengusaha juga tetap bersikeras untuk memberikannya kepada Hoegeng. Karena tidak diambil juga Hoegeng pun mengeluarkan barang-barang tersebut keluar dari rumahnya (Okezone, 11 Desember 2021).

Polisi Bermartabat

Kisah Hoegeng menjadi relevan untuk menentukan arah kiblat institusi Polri pasca-beberapa kejadian yang membuat wajah Polri babak belur. Apalagi indeks kepercayaan publik terhadap institusi polisi di ujung tanduk, setelah terjadi kasus penembakan kepada Brigadir J.

Hal itu disampaikan langsung oleh Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, yakni adanya penurunan-defisit kepercayaan setelah insiden penembakan di rumah Irjen FS. Kapolri pun menginstruksi jajarannya, untuk kembali meraih kepercayaan publik (Pikiranrakyat.com, 19 Agustus 2022).

Sebelumnya penurunan tingkat kepercayaan terhadap Polri lantaran maraknya pelanggaran yang dilakukan anggota. Contohnya adalah kasus bunuh diri seorang perempuan karena dipaksa aborsi oleh pacarnya, Bripda Randy Bagus, pada awal Desember 2021.

Ada pula polisi di pelosok Sulawesi yang memaksa istri tahanan untuk memenuhi nafsu bejatnya. Ini isu-isu yang menurunkan trust terhadap polisi dalam waktu terakhir (Detik.com, 9 Januari 2021). Banyak kasus lain yang melibatkan oknum kepolisian yang sudah dipublikasi media massa dan sudah direkam dengan baik oleh publik (baca https://www.kompas.com/tren/read/2021/10/27/063000965/10-kasus-yang-melibatkan-polisi-dan-menjadi-perhatian-publik?page=all).

Ya, kasus Irjen FS dan istrinya PC telah mendegradasi kepercayaan publik atas institusi kepolisian. Selain pembunuhan berencana yang dilakukan secara tak manusiawi, mereka juga berbohong dengan laporan palsu dan fitnah terhadap Brigadir J. Kasus mantan Kadiv Propam Polri tersebut telah menyedot perhatian publik.

Alasannya, selain penuh drama, FS adalah orang nomor satu di lingkungan Propam atau profesi dan Pengamanan Polri. Posisinya langsung di bawah Kapolri, dan dia berwenang mendisiplinkan seluruh polisi. Divisi Propam adalah polisinya para polisi.

Propam juga tempat masyarakat mengadukan perbuatan aparat polisi yang menyimpang. Namun, masalahnya pejabat tertinggi Propam justru terbelit rekayasa kasus yang menyebabkan seorang polisi tewas dengan sangat mengenaskan.

Saat ini, publik seperti kehilangan banyak kepercayaan pada Polri karena akibat dari kasus tersebut. Jika ini dibiarkan, bukan tidak mungkin kepercayaan tersebut akan menyentuh titik 'nol persen', lalu kinerja Polri tak ada guna untuk masyarakat.

Lalu, bagaimana Polri mengembalikan kepercayaan publik tersebut? Kata sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Syaifuddin, memang tak mudah bagi Polri untuk mengembalikan kepercayaan publik itu. Kepolisian harus serius dan berkerja keras. Tegak lurus dan rendah hati.

Perlu dibangun kembali kepercayaan publik oleh instusi Polri melalui berbagai kinerja yang baik, termasuk pelayanan publik, meningkatkan kinerja keamanan kepada masyarakat. Jika Polri tidak serius mengembalikan kepercayaan publik, maka kinerja Polri sebagai alat pengamanan akan tersendat, dan bukan tidak mungkin akan sia-sia.

Polri harus dapat menyikapi berkurangnya atau menurunnya tingkat kepercayaan publik ini melalui peningkatan pelayanan prima dan berkualitas (https://www.timesindonesia.co.id/, 16 Agustus 2022).

Sebenarnya publik tidak menunggu arahan atau pernyataan apa pun petinggi kepolisian nan penuh janji. Selepas kejadian Irjen FS, cs publik cuma meminta seluruh pejabat-anggota Polri meneladani sikap mantan Kapolri Hoegeng yang biasa hidup sederhana. Penuh teladan dan memantulkan investasi sebagai bhayangkara sejati.

Slogan polisi, 'Melindungi dan Melayani' terpatri dalam diri insan polisi sudah cukup. Meminjam mantan Wakapolri Oegroseno, “Jangan Ada Lagi Darah dan Air Mata di Kantor Polisi,” itu sudah dari sekadar cukup!

Selepas itu, apakah martabat polisi dapat kembali ke pangkuan Polri, baiklah ditunggu!

 ============

Sumber: Waspada, Jumat, 2 September 2022, hlm. B3



Tag: , Polisi, ,

Post Terkait

Komentar