post.png
FHOTO_PEGANG_DAGU.jpg

Melawan Ketidakadilan Melalui Tulisan

POST DATE | 28 Januari 2019

Coba tanya apa yang dilakukan Farid ketika marah. Bukan melabrak atau balas memukul. Tapi, ia akan mendekati komputernya dan mulai menulis. “Menulis itu bagi saya merupakan kompensasi terhadap perlawanan karena merasakan suatu ketidakadilan,” tegasnya. Ia mengaku menulis karena protes terhadap sesuatu yang dianggapnya tidak adil. Tulisan itu kemudian dia kirimkan ke media cetak. “Setelah dimuat, saya merasa plong,” katanya.

Sejumlah tulisannya yang dimuat di media cetak telah pula dikumpulkan dan diterbitkan melalui kerja sama dengan Lembaga Konsumen Jakarta (LKJ) dan The Asia Foundation pada tahun 1993. Buku berjudul Repotnya Jadi Konsumen ini, telah menjadi bahan referensi orang-orang yang ingin membahas permasalahan konsumen.

Selain itu, tulisannya yang telah dibukukan juga terdapat dalam kumpulan tulisan para wartawan dan aktivitas LSM dalam judul Masalah Ketenagalistrikan di Indonesia. Buku yang baru diluncurkan tahun 2004 ini, diterbitkan dengan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Koalisi Masyarakat Sipil Untuk Perbaikan Listrik di Indonesia.

Farid memang selalu bergairah jika menulis. Dengan alasan itu pula, ia mengaku telah berlaku tidak adil terhadap keluarganya, “Soalnya kalau lagi libur, saya juga suka memanfaatkan waktu untuk menulis,” akunya terus terang.

Akibatnya, ia sering mendapat protes dari dua anaknya, Muhammad Zien Azhary Wajdi (5) dan Khairunnisa Rezeki Ramadhani Wajdi (3).” Harusnya hari libur itu kan jadi waktu khusus untuk mereka. Tapi kalau lagi muncul masalah, tidak bisa tidak, saya harus menulis untuk menumpahkan kemarahan saya,” ujar suami Diana Susanti, SH ini.

Ada kepuasan tersendiri bagi Farid ketika tulisan-tulisan itu diterbitkan. “Terutama kepada perusahaan. Karena ternyata kritik-kritik kita tentang pelayanan terhadap konsumen memberikan efek jera kepada perusahaan. Saya melihat, beberapa perusahaan yang kita kritik langsung memperbaiki pelayanannya. Ini kan sangat baik,” sebutnya.

Selain itu, cerita Farid, ada juga perusahaan yang kerap dikritik LAPK, mengkliping tulisan-tulisanya. “Beberapa perusahaan yang sering saya kritik mengaku memajang tulisan saya di kantornya. Katanya, untuk mengingatkan diri mereka terhadap perbaikan pelayanan yang mereka berikan,” ucapnya seraya tertawa.

Tapi, selain untuk mengekspresikan kemarahan hatinya, ternyata ada hal yang memotivasinya untuk selalu menghasilkan tulisan. “Abang saya, Suhrawardi Lubis mempunyai buku yang lebih banyak dari saya. Masa, saya sebagai yang lebih muda tidak bisa seperti dia,” tuturnya.

 

=============== 

Sumber: Medan Bisnis, Minggu III, Maret 2005

 

 



Tag: LAPK, , ,

Post Terkait

Komentar