post.png
empati_dalam_musibah.jpg

Merajut Empat Dalam Musibah

POST DATE | 11 Juli 2017

Duka mereka adalah lara kita. Derita saudara kita adalah nestapa jiwa. Menguak hati merentang empati. Merajut nurani menggapai hati (Rumah Usaha Indonesia)

Rentetan peristiwa musibah dan bencana alam di berbagai kawasan di Asia dan Pasifik meningkat secara signifikan dalam 40 tahun terakhir. Puluhan juta orang yang menjadi korbannya, bahkan banyak yang masih terlantar. Bukti menunjukan bahwa frekuensi bencana alam telah meningkat secara signifikan sejak tahun 1970-an. Tahun 2010 saja, lebih dari 42 juta orang terlantar akibat bencana alam.

Korban bencana alam terlantar akibat kurangnya kepedulian pemerintah dan masyarakat. Bukan hanya kekurangan keperluan bahan makanan, tempat tinggal, dan sebagainya tetapi para korban bencana alam juga kekurangan perhatian. Secara psikologis rata-rata para korban bencana alam mengalami rasa takut dan trauma atau kekhawatiran akan adanya bencana berikutnya.
Deretan paling mutakhir musibah yang dialami penumpang Air Asia QZ 8501. Pesawat Air Asia QZ 8501 sempat kehilangan kontak dengan otoritas penerbangan, walaupun tiga hari kemudian beberapa jenazah dan kepingan pesawat dapat ditemukan.

Tanpa bermaksud untuk melupakan musibah lainnya perlu sedikit berkontempelasi tentang respons masyarakat dalam menyikapi pelbagai musibah itu. Ada sikap cepat tanggap, empati dan simpati dari pemerintah dan sebagian besar masyarakat terhadap musibah yang ada.

Tetapi dari setiap musibah ada saja peristiwa yang menggores dihati. Goresan luka kecil kadangkala bisa menganga karena kurangnya sikap empati segelintir masyarakat. Sekadar contoh adalah tayangan pesta ngunduh Raffi Ahmad dan istrinya Nagita Slavina, di salah satu televisi swasta bersifat sukacita dan penuh kegembiraan pesta bagi para pelaku kegiatan, termasuklah penonton yang memilih tayangan tersebut.

Di saat lain, setelah ditemukannya lokasi pesawat Air Asia media televisi lainnya menyuguhkan perkembangan pencarian dan evakuasi para korban penumpang Air Asia QZ 8501. Tayangan pada televisi itu menujukkan siaran bersifat duka cita, kesedihan mendalam bagi keluarga korban dan rasa empati para penonton yang menyaksikannya. Terlihat orang-orang yang berwajah muram penuh kesedihan, menangis, teriak histeris dan bahkan pingsan. Suasana kesedihan ruang pada sorotan kamera membuat penonton sulit berkata-kata dan turut larut dalam duka cita.

Program tayangan hiburan ala “ngunduh” Raffi Ahmad-Nagita Slavina, terkesan tidak berempati dengan peristiwa musibah termasuk tentu perasaan adanya duka cita, kesedihan mendalam bagi keluarga korban dan rasa empati para penonton yang menyaksikan siaran evakuasi korban pesawat Air Asia QZ 8501. Ada dua sisi siaran televisi, yakni antara suka cita versus duka cita.

Peristiwa lain adalah ketika para korban sedang sedih tiba-tiba stasiun televisi datang dengan pertanyaan yang tidak menunjukkan empati “bagaimana perasaan ibu menghadapi musibah ini”? Sebuah pertanyaan yang diajukan tanpa empati sama sekali. Orang yang  sedang ditimpa musibah pastilah sedih, menangis tidak perlu ditanya lagi. Apalagi rona kesedihan dan tangisannya kemudian menjadi bahan tontonan yang menghasilkan iklan dan pemasukan bagi televisi.

Di luar soal siaran suka cita versus duka cita, muncul pula kasus lain yang cukup menguras emosi. Entah sadar atau tidak, ada pula yang mengolok-olok musibah seakan terlihat tidak berempati atas insiden yang terjadi. Ada yang membuat status dimedia sosial dengan bunyi: “penyebab hilangnya pesawat Air Asia QZ-8501 bukan hilang di tengah lautan melainkan tersangkut di pohon rambutan”.

Dalam peliputan atau respons atas bencana seringkali media massa dan nitizen tidak mempertimbangkan sisi empatinya. Korban yang sedang sedih, dalam ketakutan, kekalutan, tampil seadanya harus direkam kamera untuk disebarluaskan. Ini tentunya memberikan efek kengerian, kesedihan bagi yang melihatnya, misalnya sanak saudaranya yang tinggal jauh.

Padahal dalam setiap musibah sikap empati adalah suatu keniscayaan. Mereka yang sedang tertimpa musibah membutuhkan dorongan. Oleh itu, dalam pemberitaan ataupun membuat status di media sosial semestinya perlu memahami kondisi ini. Jangan sampai tuntutan untuk menghasilkan berita tercepat, terakurat, terlengkap kemudian mengikis nilai-nilai kemanusiaan dalam dirinya.

Jangan pula mengolok-olok musibah dalam candaan atau olokan yang tentu melukai korban ataupun keluarganya.Tanpa pula bermaksud mengurangi kebebasan berekspresi tentu ketika menuliskan sesuatu apalagi berkaitan dengan musibah senantiasa perlu menyelami pikiran-pikiran dan perasaan orang lain. Memahami musibah dalam perspektif, jika mereka adalah kita. Mendekati musibah dengan mata hati, nurani dan kemanusiaan.

Memang akan selalu ada perdebatan atas pertanyaan, haruskah ketika di suatu tempat sedang berduka maka di tempat lain pun harus berduka? Sulit untuk menjawabnya. Polemik seperti itu bakal panjang dan luas pemahamannya. Karena banyak perspektif yang muncul untuk membela dan atau membantah. Mengurai wacana siaran ‘duka cita’ di media massa atau media sosial hanya dapat dijawab dengan pendekatan dan kedekatan hati. Siaran “dukacita” cuma dapat dilewati dengan jembatan hati, yaitu sikap empati, simpati yang bernurani.

Empati adalah sikap atau perilaku memahami suatu permasalahan dari sudut pandang atau perasaan lawan bicara. Iwan Wahyu Hidayat (dalam http://pondot.blogspot.com, 2014) psikolog Universitas Airlangga, mengungkapkan bahwa empati berbeda dengan simpati yang lebih merujuk pada ekspresi ataupun tindakan mengasihani seseorang. Empati merupakan upaya memahami posisi seseorang dan apa yang dirasakannya. Empati lebih dari sekadar rasa kasihan, karena di dalamnya terdapat makna untuk menghargai dan menghormati orang di sekitarnya.

Mutiara Azhari (2014) mengutip Kartini Kartono & Dali Gulo (1987) menyebut empati sebagai pemahaman pikiran dan perasaan orang lain dengan cara menempatkan diri ke dalam kerangka pedoman psikologis orang tersebut. Memiliki sifat berempati kepada orang lain berarti menyelami pikiran-pikiran dan perasaan orang lain.

Diyakini bahwa empati tidak akan pernah mampu menghapus duka saudara orang yang mengalami musibah. Tetapi setidaknya ada peringanan beban bagi mereka. Sikap empati menunjukkan bahwa kita punya hati dengan adanya empati dan simpati.

Rajutan empati yang ada dalam jiwa seseorang sangat penting untuk melakukan interaksi sosial. Empati yang terlihat dapat menciptakan suasana kepedulian, ketentraman, dan kenyamanan. Peristiwa musibah atau bencana alam semestinya, menyibak nurani dalam bentuk simpati dan empati. Musibah lahir pada apa yang namanya tragedi. Sewajarnya ketika terjadi bencana atau musibah dapat menyentuh sisi manusia dan kemanusiaan, sehingga melahirkan empati dan simpati dalam balutan nurani. Michael Nichols (2014) menyebutkan modal empati itu adalah “mengerti dan menerima”.

Dari musibah amat penting menjunjung tinggi etika dan norma. Masyarakat pun perlu menajamkan sensitifitas sosialnya. Etika, empati, sempati adalah suatu produk peradabaan dan budaya suatu bangsa. Tanpa etika dan norma, berarti adab dan budaya serta moralitas manusia itu tergolong rendah, bahkan mungkin dapat dianggap hina.

Untuk merajut empati, simpati, etika, norma, rasa kemanusiaan, serta toleransi pada sesama, perlu menghayati makna: Hati, bisakah kau katakan bahwa lautan peristiwa menguak nurani. Hati, katakanlah pada jiwamu agar ada empati dan simpati (Rumah Usaha Indonesia). Semoga!

 

========

Sumber: http://www.waspadamedan.com



Tag: Farid wajdi, Empati, Musibah, Peliputan

Post Terkait

Komentar