post.png
TIRTO_2310FaridWajdi_ratio-16x9.JPG

Sang Pejuang Takhta Konsumen

POST DATE | 28 Januari 2019

Sejak beberapa tahun terakhir, nama Farid  Wajdi Lubis, SH., M.Hum popular di kalangan masyarakat Kota Medan. Maklum, kevokalannya dalam memperjuangkan hak-hak konsumen mampu meruntuhkan “benteng kokoh” pengusaha yang selama ini terkesan sulit ditembus. Tak jarang, gugatan yang dilayangkan pria kelahiran SiIaping, 2 Agustus 1970 ini, memaksa pemilik usaha harus berurusan ke gedung pengadilan.

Tidak sulit untuk menemukan rumah sekaligus kantor dari sosok yang kerap disebut si pembela konsumen ini disekitar Jalan Karantina Medan. Meski tidak ada plang nama, namun penduduk sekitar tahu bahwa di dalam Gang Silaturrahim, terdapat sebuah kantor pengacara. “Di dalam gang itu, ada kantor pengacara Mbak”, ucap seorang lelaki yang tengah duduk di warung kopi sambil menunjuk ke satu gang yang berada di sebelah kanannya.

Benar saja, 10 meter dari gang, sebuah plakat bergambar neraca tidak seimbang warna merah terpampang jelas. Di sebelahnya, tertulis Yayasan Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen (Advocacy and Consumer Protection Institute). Seorang pria dengan baju kaos hitam dan sarung petak-petak keluar. “Silahkan masuk” sapa pria yang ternyata Farid sendiri. Saat itu, bertepatan libur perayaan Hari Raya Nyepi. Jadi, ia berpakaian santai.

Memang, Farid memanfaatkan setiap hari libur untuk bersantai bersama keluarga. Soalnya, di hari-hari biasa, Farid disibukkan dengan beragam aktivitas. Baik selaku Direktur Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen (LAPK), staf pengajar di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FH UMSU), maupun menghadiri forum-forum diskusi. Termasuk meneruskan hobi menulisnya di sejumlah surat kabar. Tentunya, yang dibahas seputar permasalahan konsumen.

Simak komentar Farid tentang kegetolannya membela hak-hak konsumen. “Saya melihat banyak ketidakadilan yang menimpa konsumen. Slogan yang mengatakan bahwa konsumen adalah raja tidak benar-benar terjadi di Indonesia. Malah yang terjadi adalah sebaliknya,” sesalnya.

Kenyataan itu yang mendorong Farid untuk mendirikan LAPK bersama sejumlah mahasiswa di FH UMSU, sekitar tahun 1999. Ditambah lagi dengan kapasitasnya selaku dosen pada mata kuliah Hukum Perlindungan Konsumen. Mata kuliah ini sendiri hasil dari buah pikirannya yang kemudian disetujui pihak UMSU dan mulai diajarkan pada tahun 1998.

“Semula, kita lebih banyak melakukan diskusi tentang perlindungan konsumen dan membandingkannya dengan perlakuan perusahaan terhadap konsumen di negara lain. Kiblat kita adalah Amerika. Di negara itu, ada advokat yang khusus untuk membela masyarakat konsumen. Advokat ini tidak dibayar karena merupakan fungsi sosial mereka terhadap masyarakat. Istilahnya, advocate no to pay,” terang Kepala Bagian Hukum Bisnis FH UMSU.

Terinspirasi dari dunia luar itu, Farid kemudian membidani kelahiran LAPK. Di institusi ini, Farid tidak mengutip bayaran untuk setiap pengaduan konsumen yang datang. Sebagai konsekuensinya, dana operasional LAPK terpaksa dirogoh dari kantong pengurus.

Kondisi ini membuat perkembangan LAPK lamban. “Kami tidak punya dana cukup untuk membiayai operasionalnya. Selama ini LAPK lebih banyak melakukan fungsi sosial,” ungkapnya.

Kendati demikian, tetap saja kabar tak sedap mengarah ke lembaga ini. Salah satunya, LAPK tidak mampu membela hak konsumen saat berhadapan dengan penguasa. Contoh kasusnya, dua kali kekalahan LAPK yang melakukan class action, kepada PLN. Tapi, bagi Farid kegagalan bukan akhir dari segalanya.

Justru ia menganggap apa yang telah dilakukan LAPK sangat penting untuk pendidikan konsumen. “Kita hanya ingin memberikan pelajaran kepada masyarakat konsumen agar mau memperjuangkan haknya bila diperlakukan tidak adil,” ungkapnya.

Ia mengaku tidak risau dengan tudingan miring pihak-pihak tertentu tentang kinerja LAPK. “Kalau orang bilang begitu kita malah senang. Kita merasa kita sudah mampu membawa konsumen untuk melindungi dirinya sendiri,” ujarnya.

Di antara kecaman dan pujian yang dialamatkan padanya, kini Farid tetap berusaha untuk mengembalikan takhta konsumen ke asalnya. Sebuah keinginan yang sederhana, namun memiliki makna mendalam.

 

================

Sumber: Medan Bisnis, Minggu III, Maret 2005



Tag: , LAPK, ,

Post Terkait

Komentar