post.png
profesi_advokat.jpg

Etika Sebagai Life Style

POST DATE | 23 Juli 2022

Banyak kisah monumental dan patut dicatat dengan tinta emas berkenaan dengan ketinggian dan keluhuran etika sebagai bagian dari gaya hidup seorang profesional. Etika profesi adalah sikap hidup tentang kesediaan untuk memberikan pelayanan profesional terhadap masyarakat dengan keahlian dan terlibat penuh sebagai pelayanan dalam rangka melaksanakan tugas (Farid Wajdi dan Suhrawardi, 2021).

Adanya etika profesional ini dapat memberikan gambaran tentang bagaimana seseorang harus bertindak terhadap orang lain dan institusinya dalam lingkungan tersebut. Etika profesi dimaksudkan agar individu-individu profesional dapat mengembangkan seperangkat keyakinan, sikap, dan kebiasaan yang harus ditunjukkan sesuai dengan profesinya.

Etika profesi adalah rambu-rambu moral bagi individu profesional dalam kehidupannya. Sikap profesional secara langsung berpengaruh terhadap respons seseorang dapat mempertanggungjawabkan profesinya kepada masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.

Pantulan sikap profesional yang sangat inspiratif dapat dipetik dari beberapa kisah yang telah tertulis dalam lintasan sejarah manusia. Dikisahkan, suatu malam, Umar bin Abdul Aziz terlihat sibuk merampungkan sejumlah tugas di ruang kerja istananya. Tiba-tiba putranya masuk ke ruangan bermaksud hendak membicarakan sesuatu.

"Untuk urusan apa putraku datang ke sini, urusan negarakah atau keluargakah?" tanya Umar.

"Urusan keluarga, ayahanda," jawab sang putra.

Tiba-tiba Umar mematikan lampu penerang di atas mejanya. Seketika suasana menjadi gelap. "Kenapa ayah memadamkan lampu itu?" tanya putranya merasa heran.

"Putraku, lampu yang sedang ayah pakai bekerja ini milik negara. Minyak yang digunakan juga dibeli dengan uang negara. Sementara perkara yang akan kita bahas adalah urusan keluarga," jelas Umar.

Umar kemudian meminta pembantunya mengambil lampu dari ruang dalam. "Nah, sekarang lampu yang kita nyalakan ini adalah milik keluarga kita. Minyaknya pun dibeli dengan uang kita sendiri. Silakan putraku memulai pembicaraan dengan ayah." (https://kalam.sindonews.com/read/25819/70/kisah-umar-bin-abdul-aziz-dan-padamnya-lampu-istana-1589274303).

Kisah lain diungkapkan sesuai pengalaman jurnalis Detik.com. Pada suatu kesempatan, saya mengunjungi Supreme Court of the United Kingdom (UK). Saat masuk area gedung tertulis aturan tidak boleh memfoto dan membuat video.

"Bolehkah saya memfoto ruang sidang? Bukankah ini ruang untuk umum?" kata saya ke petugas.

"Tetap tidak boleh," jawab petugas.
"Apa alasannya?" tanya saya penasaran.

"Di meja hakim ada berkas perkara. Di sana ada buku-buku yang dibaca hakim. Nanti khawatirnya para pihak bisa membaca jalan pikiran hakim dengan merujuk buku yang dibaca hakim untuk memenangkan perkara," jawab petugas dengan aksen Inggris.

Saya terkejut dan terkesima. Sebegitu ketatnya kode etik hakim di Inggris, sampai-sampai buku referensi hukum sang hakim ditutup rapat bagi publik atau pihak berperkara.

("Senja Kala Kode Etik Hakim Indonesia" selengkapnya https://news.detik.com/kolom/d-6114065/senja-kala-kode-etik-hakim-indonesia).

Ada satu cerita lagi yang sangat menarik saat menggambarkan keteguhan hati dan keyakinan hidup. Albert Camus menceritakan tentang Sisiphus. Dalam legenda Yunani, Sisiphus dikutuk oleh dewa Zeus, karena perbuatannya menentang para dewa.

Sisiphus yang karena berpegangan pada pendiriannya dikutuk seumur hidup melakukan tugas mendorong batu dari dasar hingga puncak gunung. Batu besar itu pun dengan mudahnya tergelincir lagi ke bawah setiap kali sampai di puncak. Setiap kali batu itu jatuh, Sisiphus mesti mengulangi lagi pekerjaannya dari awal.

Dari perjuangan yang seolah sia-sia melawan hidup dan nasib yang melingkupi itu, Camus menggambarkan Sisiphus sebagai manusia yang melakoni pekerjaannya dengan rasa keyakinan.

Sebab itu ia tidak pernah berhenti mendorong batu besar itu ke atas lagi dan lagi. Kata Camus, "Perjuangan itu sendiri cukup untuk memenuhi hati seorang manusia. Tiada lain yang dapat dipikirkan kecuali bahwa ia (manusia itu) berbahagia."

Epos tentang Sisiphus sebagai pejuang tanpa kenal lelah merupakan gambaran yang sangat nyata bagi seorang profesional. Seorang profesional dalam menegakkan hukum dan keadilan atau melayani seberat Sishipus mengangkat batu-batu besar itu ke atas hingga berkali-kali.

Dari cerita tersebut, Sisiphus memiliki kualitas yang luar biasa sebagai manusia. Integritas Sisiphus telah mengantarkannya menjadi cerita kepahlawanan yang melegenda dalam mitologi Yunani.

Apakah Sisiphus menderita? Tidak, karena dia melakukakannya dengan penuh kebahagiaan (http://www.pabajawa.net/artikel-hukum/1047-menjadi-hakim-yang-teguh-dan-penuh-keyakinan-oleh-musthofa-s-h-i-m-h-1-10-21).

Profesi Niretika

Nama Earl Warren, Ketua Mahkamah Agung Amerika Serikat (1953-1969), acapkali dikaitkan dengan etika profesi hukum. Kata-kata Warren ‘law floats in a sea of ethics’, hukum mengapung di atas samudera etika, sangat familiar di kalangan pengkaji etika hukum. Kalimat itu kira-kira bermakna jika air samudera etika tidak mengalir, maka hukum tidak mungkin ditegakkan dengan adil.

Masalahnya kini moral dan etika tidak lagi menjadi sukma hukum karena keduanya telah tercerabut sebagai akar sekaligus sukma dari semua hukum. Meminjam Mahfud MD (2015), seandainya hukum masih bersukmakan moral dan etika, setiap orang yang melanggar moral dan etika seharusnya merasa juga melanggar hukum dan sebaliknya orang yang melanggar hukum sebenarnya telah melanggar moral dan etika.

Tetapi justru yang terjadi adalah hukum dipisahkan dari moral dan etika sehingga orang yang diduga kuat dan terindikasi melanggar hukum pun merasa dan diperlakukan tak melanggar apa-apa karena belum divonis bersalah secara hukum.

Penegakan hukum saat ini meletakkan moral dan etika itu sebagai hal omong kosong belaka. Bahkan selalu dikatakannya terlalu abstrak dan relatif untuk dikaitkan dengan kasus konkret. Karena itu hukum harus disesuaikan dengan formalitas prosedural belaka.

Adagium selama hukum belum menyatakan seseorang bersalah secara resmi melalui vonis pengadilan maka seseorang yang oleh publik dirasa dan dinilai melakukan pelanggaran tetap saja merasa dan berbuat seolah-olah tidak melakukan kesalahan apa pun.

Ironisnya, di dalam kenyataan hukum seringkali terjadi orang yang sedang menduduki jabatan penting sulit disentuh oleh hukum. Yang terjadi adalah seperti lingkaran tak bertepi.

Oknum pejabat publik yang melanggar hukum tak mau menunjukkan ketundukan dan penghormatannya untuk melaksanakan tuntunan moral dan etika. Alasannya adalah karena belum ada vonis pengadilan sebagai wujud dari penegakan hukum.

Namun demikian, di pihak lain para penegak hukum jerih dan tak mau memproses hukum secara tegas terhadap pejabat karena kedudukannya yang tinggi di struktur pemerintahan.  

Ada ungkapan yang patut dipedoman bagi para profesional hukum atau pejabat publik dalam menekuni profesinya. Dalam hukum, seseorang dinyatakan bersalah ketika dia melanggar hak orang lain. Dalam etika, seseorang sudah dianggap bersalah saat dia berpikir untuk melanggar hak orang lain (Immanuel Kant, 1724–1804).

Kant ingin menyatakan betapa dalam etika keluhuran sikap profesional sangat penting ditegakkan. Sebab orang bersalah itu “cukup berpikir untuk melanggar hak orang lain.” Batas demarkasi etika-hukum adalah “dia berpikir saja sudah bersalah dan tak perlu sampai melanggar dulu hak orang lain baru dinyatakan bersalah.”

 ============

Sumber: Waspada, 3 Agustus 2022, hlm. B3



Tag: Etika, , ,

Post Terkait

Komentar