post.png
POLISI_TIDUR.jpg

Kisah Pilu di Balik “Polisi Tidur” Hiasi Jalan Ambai

POST DATE | 12 September 2022

SEBUAH ruas jalan kecil di kawasan Medan Tembung jadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Usut punya usut, jalan tersebut ‘dihiasi” dengan dua “polisi tidur”.
Ternyata oh ternyata, di balik berdirinya polisi tidur (sleeping policeman) di jalan itu menyimpan kisah tersendiri. Bak kata peribahasa, tidak ada asap jika tak ada api. Polisi tidur itu berdiri karena dorongan jeritan hati masyarakat.
Sekelompok kecil warga Jalan Ambai Medan Tembung terpaksa membangun ‘marka kejut’ tersebut untuk peringatan kepada para pengendara agar memelankan atau mengurangi kecepatan laju kendaraan. Menurut warga setempat, jalan Ambai termasuk kawasan jalan yang kecil dan sepi. Kondisi itu yang mendorong pengendara mengencangkan laju kendaraan, terutama sepeda motor.
Polisi tidur itu dibuat atas inisiatif dan swadaya warga sendiri. Meski belum ditemukan kasus warga tertabrak kendaraan yang melaju kencang di lokasi itu, namun warga tetap khawatir, kendaraan yang meluncur dengan kecepatan tinggi berisiko memunculkan kecelakaan lalu lintas.
Namun, dibuatnya polisi tidur di Jalan Ambai tersebut didorong oleh keresahan warga atas keberadaan kafe yang setiap hari ramai didatangi pengunjung. Kendaraan, baik roda empat maupun roda dua, berseliweran keluar masuk gerbang kafe. Warga sekitar resah karena laju-laju sepeda motor memekakkan telinga, karena tak sedikit sepeda motor pengunjung kafe itu yang menimbulkan suara bising.
“Kalau enggak ada keresahan kami (warga), engak akan ada polisi tidur ini. Karena kami resah dengan aktivitas kafe yang ramai, dan kendaraan yang hilir mudik keluar masuk kafe, maka antisipasinya dengan buat polisi tidur,” ujar Farid Wajdi, 52, warga Jalan Ambai yang rumahnya berhadapan langsung dengan kafe tersebut.
Menurut dia, setahun belakangan warga dibuat tidak nyaman istirahatnya terutama pada malam hari. Keramaian kafe yang bernama Pos Ambai Kafe itu menyulut kemarahan warga. Sebagian warga mengaku tidak bisa tidur malam hari karena suara bising dari kafe itu. Belum lagi suara knalpot bising pengunjung kafe.
Rivai Lubis, 47, warga lainnya menambahkan, oleh karena itulah, karena ramainya kendaraan pengunjung kafe dan maraknya kebut-kebutan, kami warga di sini berinisiatif membuat polisi tidur. Sayangnya, tak semua orang setuju terkait polisi tidur itu.
Oleh sebagian orang, polisi tidur rawan terjadi kecelakaan. Dalam regulasinya, polisi tidur tidak boleh dibuat sembarangan.
“Kenapa kami harus memikirkan orang lain, sementara orang lain belum tentu paham dengan penderitaan kami. Berhari-hari, malam hari, kami tidak nyenyak di pembaringan. Kafe di sebelah itu, bising....bising... dan bising terus,” keluh Rivai lagi.
Perseteruan warga dengan pemilik Pos Ambai kafe sudah berlangsung lama. Sejak awal berdiri, warga menolak keras kehadiran kafe itu di permukiman warga. Bahkan kasusnya tengah diproses di pengadilan. Warga ‘menyeret’ pemilik kafe tersebut ke meja hijau dalam gugatan perdata.
Melalui kuasa hukumnya dari Perhimpunan Advokat Sumatera Utara (PASU), Farid Wajdi dan warga lainnya memutuskan untuk melakukan perlawanan hukum ke pengadilan negeri Medan. “Ini bentuk perlawanan hukum dengan pemilik kafe. Atas nama umat, atas nama warga. Perkara menang atau kalah, itu urusan hakim. Kami serahkan semua pada Allah Subhanahuwata’ala,” tegas Farid, eks Jubir Komisi Yudisial itu.
Indra Buana Tanjung, kuasa hukum warga Ambai menyatakan, kliennya telah dirugikan baik moril maupun materil. “Kami ikut berjuang bersama seluruh warga Ambai, mohon doanya saja,” ujar Indra Buana. Meminjam judul lagu Krisdayanti Penantian, warga Ambai kini dalam penantian.

=============

Sumber:  Waspada, Ahad, 21 Agustus 2022, hlm.  B6



Tag: , , ,

Post Terkait

Komentar