post.png
kafe_ambai.jpg

Perjuangan “Segelintir” Warga Ambai Yang Tak Kenal Lelah...

POST DATE | 13 September 2022

Seperti kebanyakan jalanan di pinggiran kota, Jalan Ambai adalah potret dari “keterasingan” suasana hiruk pikuk dari identitas sebuah kota besar. Di jalan tersebut, tergambar suasana tentram kehidupan penduduknya.

Jalan Ambai, adalah “kampung” kecil yang membelah dua jalan utama, yaitu Jalan Willem Iskandar dan Jalan Tempuling, berlokasi di Kelurahan Sidorejo Hilir, Kecamatan Medan Tembung, Kota Medan.

Sehari-hari, warga di Jalan Ambai, terkesan lebih senang menutup rapat-rapat pintu rumahnya. Pagi, siang, sore hingga malam hari, tak banyak terlihat aktivitas warganya. Hanya sesekali bocah-bocah ingusan yang bermain bola di jalanan yang lengang di sore hari.

Karena “senyap”nya, banyak warga tak berani membuka usaha. Jangankan membuka kios atau took kelontong, meletakkan etalase steling di depan rumah pun warga Ambai tak berani melakukannya. Kenapa? Tentu saja khawatir dagangannya tak laku, karena sepinya lalu lalang orang dan letaknya yang tentu kurang strategis untuk menarik konsumen.

Malam hari, meski jalanan terang benderang oleh cahaya lampu penerang jalan umum, namun kesunyian makin saja terasa. Di pojok jalan, ada pos kamling yang dijaga dua atau tiga bapak-bapak. Sayup-sayup lantunan ayat suci Alquran dan kumandang azan dari pengeras suara di masjid, terdengar bersahut-sahutan, seolah membangunkan warga dari nyamannya tidur di malam yang panjang.

Seorang warga Ambai berujar, “hanya suara gemericik air, hembusan angin malam dan jangkrik yang berkicau yang menjadi teman istirahat warga. Bagi warga Ambai, malam hari adalah sensasi istirahat yang sesungguhnya.

“Polusi Suara” Kafe Mengusik Warga

Namun, apa yang terjadi kemudian. Kenyamanan dan ketentraman warga Ambai mulai terusik oleh “polusi suara” yang bersumber dari sebuah kafe di area permukiman.

Pada Februari 2021, sebuah pertapakan tanah kosong di area tersebut dibangun kafe, tempat makan dan minum tentunya. Warga Ambai kaget, lahan yang dulunya kosong dan ditumbuhi semak belukar, kini disulap menjadi bangunan kafe yang megah, terang-benderang oleh bola lampu beragam warna.

Ternyata kehadiran kafe tersebut memberi dampak psikologis bagi warga di sekitar. Tentu saja, yang namanya kafe, selain kehadiran pengunjung yang ramai, juga memunculkan “polusi-polusi suara” dari dalam kafe. Pertunjukkan live musik, dan segala hingar binger keramaian orang tersaji di dalamnya. Warga Ambai pun beraksi.

Warga Ambai yang telah lama tenang dalam hidupnya, mulai “menggugat”. Hak asasi warga terusik oleh ulah usil pengelola kafe. Warga menggugat, karena Sebagian besar warga Ambai tak pernah memberikan “rekomendasi” berdirinya kafe disekitar tempat tinggal mereka. Tragisnya, kafe tersebut beroperasi tak mengenal waktu.

“Apa ini, apa-apaan ini. Dulu kita bisa tidur nyenyak, tapi sekarang, ketenangan kita dirusak. Mereka berpesta, kita menderita. Dan itu terjadi di depan mata kita,” protes Ahmad Rivai Lubis, bapak tiga anak.

Kediaman pria paruh baya ini hanya dibatasi tembok tinggi di samping kiri kafe. Menurut pengakuannya, setiap malam hingga jelang fajar, suara-suara live musik, hiruk pikuk keramaian pengunjung kafe, mengganggu tidur keluarganya. Harga diri, hak asasinya telah diinjak-injak. “Aku tidak berdaya, tidurku hanya beberapa jam saja, suara bising kafe itu telah merenggut “nyawa” tidurku,” katanya lagi.

Pria ini tidak sendirian, beberapa warga lain melayangkan protes. Kafe yang disebut-sebut dibeckingi aparat ini tak bergeming. Keluhan warga yang terganggu dianggap hanya angin malam yang berhembus ke sana kemari, tak tertuju di satu tempat. Pemilik kafe melakukan “perlawanan” atas protes warga. Mereka beralasan telah mengantongi izin operasional.

Warga Pun “Menggugat”

Tokoh-tokoh masyarakat Jalan Ambai memberi reaksi atas sikap pemilik kafe. Para tokoh warga dari lintas profesi pun angkat bicara. Meski aduan warga direspon pihak-pihak terkait dengan mensweeping, merazia dan menyegel sementara kafe tersebut, namun sepasang suami istri yang menjadi owner kafe tersebut tak juga bersikap lunak. Operasional kafe tetap penuh waktu. Malam-malam di Jalan Ambai, adalah malam-malam “jahanam”, malam-malam yang penuh teror bagi warganya.

Dalam ketidakpastian sikap warga atas segala keluh kesahnya, seorang warga setempat yang sehari-hari berprofesi sebagai advokat, turun tangan menolong warga dengan menyiapkan langkah-langkah hukum.

“Dari awal memang tidak ada itikad baik dari pemilik kafe, warga tidak dianggap sebagai manusia. Apa boleh buat, jika mediasi, somasi tidak dihargai, maka warga Ambai siap menggugat, dengan segala pertimbangan hukum yang ada,” ujar Farid Wajdi, pengacara senior dan Komisioner Komisi Yudisial periode 2015-2020.

Kini, warga Ambai tak kenal lelah berjuang atas nasibnya. Mereka tak berdaya dikampungnya sendiri. Kekuatan suara dari sekian banyak kepala keluarga yang dirampas keheningan kehidupan dianggap hanya “masuk telingan kanan dan keluar dari telinga kiri”. Saatnya warga Jalan Ambai melawan...!

============

Sumber: Ahad, 24 April 2022, hlm.  4

 



Tag: , , , , Farid wajdi

Post Terkait

Komentar